Napak Tilas Brawijaya VI

Lokasi Pantai Watulawang – Gunung Kidul sepertinya tidak pernah keluar dari pantai pantai baru yang indah. Kabupaten di sebelah tenggara Yogyakarta memiliki pantai yang indah di setiap sisi perbatasan laut. Salah satu pantainya, yang pada gilirannya telanjang adalah Pantai Watulawang Gunungkidul. Lokasi Pantai Watulawang sebenarnya tak jauh dari pantai Indrayanti yang terkenal. Pantai Watulawang dengan pantai Indrayanti hanya sekitar 800 m timur.
Keindahan Pantai Watulawang adalah keberadaan Goa yang terletak di karang mulut pantai. Goa seperti pintu dan bisa masuk oleh pengunjung, maka disebut Watulawang (watu = batu, lawang = pintu). Dikatakan bahwa gua Raja Brawijaya VI ini digunakan untuk meditasi. Tak heran pantai ini sering digunakan untuk upacara adat.

Selain Goa dan terumbu karang, Pantai Watulawang juga memiliki pantai berpasir putih namun tidak begitu jauh. Tempat yang paling indah di Pantai Watulawang adalah Gazebo Gardu Pandang, yang terletak di terumbu karang, dengan jembatan bambu yang bergabung dengan terumbu sehingga pengunjung bisa menikmati ombak pada jarak yang relatif pendek. Namun, kewaspadaan tambahan diperlukan bagi setiap pengunjung untuk melihat situasi dan kondisinya.

Lokasi Pantai Watulawang

Pantai Watulawang terletak persis di Kabupaten Tepus Gunung Kidul. Lokasinya antara Pantai Indrayanti dan Pantai Pok TUNGgal, alias di tengahnya. Jarak ke Pantai Indrayanti berjarak sekitar 1 km.

Rute menuju Pantai Watulawang

Untuk mencapai Pantai Watulawang, cukup ikuti rute utama menuju pantai selatan Gunung Kidul. Setelah melewati gerbang Levy, ikuti arahan ke pantai Indrayanti, lalu ikuti jalan ke timur sekitar 800 meter dan ada tanda ke pantai Watulawang. Dari jalan utama Anda harus menempuh jarak sekitar 200 meter ke selatan. Sayangnya, kondisi jalan tidak diaspal dan masih cukup ketat untuk sebuah mobil.

Indahnya Pagi di Kebun Buah Mangunan

Sejak dibuka untuk umum oleh Pemkab Bantul pada tahun 2003, Kebun Buah Mangunan telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Bantul, selain Pantai Parangtritis dan Makam Imogiri. Sebenarnya, ada apa di sana?

Tak seperti namanya, tempat ini sebenarnya bukanlah kebun buah seperti halnya Mekarsari di Bogor. Kita memang akan menemukan beberapa pohon buah seperti buah belimbing dan rambutan, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Pun, objek utama di tempat bukanlah pohon buah melainkan sebuah gardu pandang di mana kita bisa melihat indahnya Geopark Gunung Sewu yang hijau.

Pemandangan itu semakin ciamik berkat keberadaan Sungai Oya yang mengalir dengan gemulai. Asalkan kita datang pada waktu tepat, kita bisa menyaksikan cantiknya Sungai Oya dengan airnya yang berwarna toska. Indah!

Kebun Buah Mangunan sekarang sudah berbeda dengan Kebun Buah Mangunan beberapa waktu lalu. Pengelola terus melakukan perbaikan serta penambahan fasilitas yang membuat para pengunjung semakin nyaman untuk berkunjung dan menikmati pemandangan. Bukan tidak mungkin kalau tempat ini nantinya akan menjadi salah satu tempat wisata unggulan di Jogja bersanding dengan Candi Prambanan, Kraton dan Malioboro. Terlebih lagi, di sekitar kebun buah ini juga banyak tempat-tempat menarik lain untuk dikunjungi.

Sebelum memutuskan untuk berkunjung ke Kebun Buah Manguan, ada baiknya untuk cari mencari tahu dulu beberapa hal terkait tempat ini. Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin berguna untuk kamu yang berencana ke sana.

1. Siapkan kamera yang sip

Penting untuk diketahui. Tujuan utamamu berkunjung ke Kebun Buah Mangunan adalah untuk menyaksikan keindahan Gunung Sewu yang sudah ditetapkan sebagai Global Geopark tahun 2015 lalu. Gunung Sewu sendiri merupakan rangkaian pegunungan kapur yang membentang dari Pacitan di Jawa Timur, melewati Wonogiri di Jawa Tengah, lalu berlanjut ke Gunungkidul di DI Yogyakarta.

Di Jogja, khususnya di kawasan Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, telah banyak dikembangkan tempat-tempat keren yang memungkinkan kita untuk menikmati keindahan Gunung Sewu. Salah satu yang paling keren adalah Kebun Buah Mangunan ini. Rugi rasanya kalau ke Mangunan tapi tidak membawa kamera yang sip. 🙂

2. Waktu kunjungan

Ini juga sangat penting. PENTING.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Kebun Buah Mangunan adalah saat pagi-pagi buta atau sore. Saat pagi, kita bisa melihat pemandangan matahari yang terbit di antara bukit-bukit hijau di Gunung Sewu. Sedangkan saat sore menjelang senja kita bisa melihat matahari yang kembali ke peraduan. Namun tentu saja, kita bisa berkunjung kapan saja kalau hanya ingin menikmati pemandangan Gunung Sewu.

Penting juga untuk dicatat. Di musim penghujan kemungkinan besar kamu tidak akan mendapatkan pemandangan Sungai Oya dalam kondisi terbaik karna airnya biasanya akan berwarna coklat, alih-alih toska.

3. Jangan lupa mampir ke tempat lain di sekitarnya

Seperti yang sudah saya singgung di atas, Kebun Buah Mangunan sangat berpotensi untuk menjadi salah satu tempat wisata unggulan di propinsi DI Yogyakarta. Alasannya karna di sekitar sana ada banyak tempat lain yang bisa dikunjungi. Hutan Pinus Mangunan yang belakangan juga semakin populer saja. Selain itu, lokasi tempat ini juga tak terlalu jauh dari Makam Imogiri. Dari pusat kota Jogja jaraknya pun tak terlalu jauh kurang 60menit

Nah, selagi di Kebun Buah Mangunan, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat lain di sekitarnya seperti Hutan Pinus Mangunan, Hutan Pinus Pengger, Puncak Becici, Bukit Panguk, Bukit Mojo, Tebing Watu Mabur dll.

Rumah Hobbit Jogja

Potensi pariwisata Yogyakarta memang sangat banyak sehingga tak heran jika destinasi wisata baru terus bermunculan di daerah Yogyakarta. Tak hanya berpusat di Kulonprogo maupun Gunungkidul, di Bantul juga ada banyak wisata menarik untuk dikunjungi lho! Salah satunya yang masih baru banget adalah Rumah Hobbit di kawasan wisata Seribu Batu Songgo Langit, Dlingo, Bantul.

Meski Lembang juga punya wisata rumah Hobbit, namun Rumah Hobbit yang berada di Bantul ini juga tak kalah kerennya lho! Destinasi wisata baru di Yogyakarta atau yang tepatnya di Bantul ini baru-baru saja ramai dibicarakan di media sosial beberapa hari yang lalu, sehingga masih belum terlalu banyak yang tahu destinasi wisata ini dan membagikan fotonya di Instagram.

Wisata Rumah Hobbit di Bantul ini berada di Jalan Hutan Pinus Nganjir, Mangunan, Dlingo, Bantul dan masih satu kawasan dengan kawasan wisata Seribu Batu Songgo. Posisi rumah Hobbit ini berada di bawah rerimbunan pohon pinus yang tak hanya sejuk tetapi juga Instagram-worthy. Ada semacam jalan setapak yang dibuat untuk menuju rumah ini yang akan memudahkan kamu untuk menuruni bukit untuk sampai ke rumah kece ini. Meski namanya rumah, tapi objek wisata yang satu ini tidak bisa dimasuki ya! Rumah Hobbit ini dibuat untuk menciptakan banyak spot menarik bagi wisatawan untuk berfoto.

Rumah Hobbit ini sedikit berbeda dari rumah Hobbit yang ada di Lembang. Dari segi bentuk, Rumah Hobbit di Bantul ini memang mirip seperti yang ada di film Lord of the Rings maupun Hobbit. Namun detail di depan rumah sedikit berbeda dari Bag End atau sebutan rumah Hobbit di film Lord of the Rings. Bagian depan rumah ini memiliki lukisan semacam bunga dan gambar pegunungan di kejauhan. Ada juga dua buah jendela berbentuk lonjong yang membuat bagian depan rumah ini terlihat unik dan pastinya instagrammable sekali.

Dari Rumah Hobbit ini juga dekat ke Taman Seribu Batu Songgo sehingga kamu bisa berburu lebih banyak foto di tempat wisata hits di Bantul ini. Akses menuju destinasi wisata baru ini tergolong mudah sehingga dijamin kamu tidak akan tersasar. Lokasi rumah Hobbit ini juga tidak begitu jauh dari Kebun Buah Mangunan. Pemandangan di sekitar Rumah Hobbit ini juga hijau banget lho! Ditambah udaranya yang sejuk dijamin kamu bakal betah berkunjungi ke wisata yang satu ini.

Oh ya, karena masih baru, masih sedikit sekali wisatawan yang berkunjung ke Rumah Hobbit ini.

Pesona The Lost Word Castle Jogja

Pesona The Lost Word Castle Jogja

Bicara soal destinasi wisata di Jogja memang tidak ada habisnya, satu lagi destinasi wisata unik dari Jogja muncul, yakni The Lost Word Castle.

The Lost Word Castle ini berada tepat di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, dan tepat di kawasan lereng Gunung Merapi yang menambah kesan eksotis dari tempatnya. Bangunan yang belum sepenuhnya jadi ini sudah menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan, terutama kaum muda-mudi.

Bentuk bangunan yang menyerupai benteng kuno dan berada di lahan seluas sekitar 1,3 hektar sekarang menjadi destinasi wisata TerHits yang ada di Yogyakarta.

Apa aja sih yang ada di The Lost Word Castle?

Seperti yang sudah dijelaskan diawal tadi, benteng ini belum 100% jadi, namun pengunjung yang datang bakal disuguhkan berbagai keunikan tersendiri dari ketempat ini.

Salah satu hal yang paling utama adalah bentuk benteng yang mirip dengan benteng takeshi yang sangat instagramable pokoknya gaes.

Yang kedua adalah spot yang sangat unik di The Lost Word Castle ini tentang adanya situs Stonehenge yang berada di Negara Inggris. Jadi coba aja foto disini pastilah seperti di Inggris.

Nah hal unik dan asik yang terakhir adalah pemandangan Gunung Merapi yang akan terlihat jelas kegagahanya, saat dilihat dari The Lost Word Castle.

Tiket Masuk The Lost Word Castle

Nah untuk masuk ke dalam benteng unik ini, pengunjung dikenakan biaya cukup 15.000 saja, walaupun di tketnya tertulis 60.000. Mungkin karena belum 100% jadi kali ya.

Jadi jangan lupa untuk membawa uang pas ya, selain itu sebelum kesini ambilah uang cash di ATM, karena akan sangat sulit mencari ATM disekitar The Lost Word Castle ini.

Rute Menuju The Lost Word Castle

Untuk menuju The Lost Word Castle tidaklah sulit gaes, karena tinggal mengambil arah jogja bagian utara sekitar 25 km dari pusat kota Jogja. Jadi cukup aktifkan GPS dan pastinya akan sangat mudah untuk menumkan tempat ini. So selamat berlibur dan berpetualang.

Desa Wisata Rumah Domes Diresmikan

Desa Wisata Rumah Domes Diresmikan
DI Yogyakarta saat ini memiliki desa wisata mandiri yakni desa wisata Rumah Domes yang terletak di Dusun New Ngelepen, Sengir, Sumberharjo, Prambanan, Sleman Yogyakarta. Desa wisata ini agak unik karena sekitar 80 rumah warga di cat dengan berbagai warna ini sehingga diharapkan akan bisa menarik wisatawaan ke wilayah tersebut.
Desa Wisata Rumah Domes diresmikan oleh Kepala Desa Sumber Harjo, Lekta Manuri S. T dan Markeng Manager Avian Brands, Adhi Pranarko di Dusun New Ngelepen, Sengir, Sumberharjo, Prambanan, Sleman Yogyakarta, Rabu (24/5).
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sumber Harjo, Lekta Manuri S. T. sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Avian Brands yang telah mewujudkan wisata mandiri Desa Wisata Rumah Domes di Yogyakarta.
“Peresmian ini memberikan dampak positif untuk masyarakat Desa Wisata Rumah Domes, sebagai upaya memberikan kontribusi terbaik bagi pengelolaan pariwisata yang ada di Desa New Ngelepen. Dengan ketersediaan fasilitas yang sudah ada, semoga bisa memberikan manfaat secara berkelanjutan dan diharapkan warga secara aktif turut serta menjaga keindahan yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, Manager Avian Brands, Adhi Pranarko menengatakan, pengembangan destnasi wisata mandiri Desa Wisata Rumah Domes disambut baik oleh Avian Brands, selaku produsen cat ini turut serta dalam menjalankan tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap pertumbuhan pariwisata di Indonesia.
Kali ini Avian telah memberikan 1.700 kg cat No Drop Cat Pelapis Anti Bocor ini untuk mencat 80 rumah di desa wisata tersebut. Menurutnya, pengembangan pariwisata juga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat disekitarnya, yang diposisikan sebagai sarana penting dalam rangka memperkenalkan budaya dan keindahan alam daerah terkait, hal ini serupa dengan nilai perusahaan Avian Brands, memberikan nilai lebih bagi semua pihak.
“Dengan resminya destnasi wisata ini, diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengunjungi keunikan warna-warni yang ada di Dusun New Ngelepen, bukan hanya untuk ber-swafoto, tapi juga untuk lebih mengenal Desa unik ini,” tegasnya. (KRJogja)

Candi Mendut

Objek wisata Candi Mendut menyimpan kisah unik yang cukup menarik. Candi Buddha yang berjarak dekat dengan Candi Borobudur ini adalah salah satu destinasi yang banyak dikunjungi para penyuka budaya dan sejarah zaman dulu.
Candi Mendut dibangun oleh Dinasti Syailendra, yaitu Raja Indra. Bukti sejarah ini dapat dilihat dari Prasasti Kayumwungan yang pernah ditemukan di Karangtengah.

Secara administratif, kawasan wisata Candi Mendut berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah yang terletak di Desa Mendut, Kabupaten Magelang. Tetapi pada umumnya, banyak kalangan wisatawan menyebutnya sebagai Candi Mendut Yogyakarta.

Sebagaimana candi-candi kebanyakan, Candi Mendut juga berbentuk persegi empat lengkap dengan hiasan beberapa stupa kecil. Meskipun terletak dalam satu garis lurus, konon Candi Mendut lebih dulu dibangun sebelum Candi Borobudur. Jika Candi Borobudur lurus menghadap matahari terbit, sebaliknya justru pintu Candi Mendut menghadap ke barat.

Candi Prambanan

Inilah candi Hindu terbesar di kawasan Asia Tenggara, berketinggian 47 meter dan telah dinyatakan sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia pada tahun 1991 oleh UNESCO. Inilah pula candi Hindu paling megah yang ada di Indonesia. Candi Prambanan ini terletak di perbatasan antara 2 provinsi, yakni Jogjakarta dan Jawa Tengah. Objek wisata Jogja ini memiliki panorama nan memikat, sungguh eksotik di kala senja tatkala cahaya matahari menyinari bangunan candi dengan gradasinya yang mempesona. Dari dekat, Anda dapat menyaksikan pemandangan arsitektur dan desain candi yang begitu indah.
Candi Prambanan adalah sebuah tempat wisata di Jogja dengan riwayat yang tua. Letak posisi candi Jogja yang satu ini dengan Candi Borobudur tidaklah berjauhan, hal ini memberikan pesan kuat bahwa sejak dahulu kala telah terjadi keharmonisan antar pemeluk agama Buddha dan Hindu di tanah Jawa.

Sejarah Candi Prambanan dimulai pada tahun 850 Masehi, pertama kali dibangun oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Syailendra yang berkuasa pada ketika itu. Berdasarkan Prasasti Shivagrha yang berangka tahun 856 Masehi, candi di Jogja yang satu ini dibangun untuk menghormati Dewa Siwa. Masih berdasarkan prasasti, Candi Prambanan pada awalnya dinamakan Shiva-grha, yang artinya Rumah Siwa, dan selanjutnya disebut pula sebagai Shiva-laya, yang berarti Kerajaan Siwa.

Gunung Merapi

Menikmati matahari terbit dari gunung api paling aktif di negeri ini, serta menengok langsung kawah Merapi yang selalu bergolak menjadi pengalaman wajib seumur hidup.
Gunung Merapi yang berada dalam satu garis lurus dengan Keraton Jogja dan Samudera Hindia memegang posisi penting dalam masyarakat Jawa. Hal ini dipercaya sebagai suatu trinitas kosmologi yang mempunyai hubungan erat satu sama lain. Merapi sebagai api, Laut Selatan perlambang air, sementara Keraton adalah penyeimbangnya. Malam ini kami berangkat untuk mendaki sang unsur api, Merapi.

Kami mengambil rute pendakian jalur sisi Utara, yaitu via Dusun Plalangan, Desa Jlatah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Plalangan adalah dusun terakhir bila kita akan melakukan pendakian melalui jalur Selo. Untuk sampai ke sini kita bisa naik angkutan umum dari arah Jogja ke Magelang; turunlah di Blabak lalu lanjutkan naik mini bus jurusan Selo. Untuk mencapai Base Camp Barameru (Mbah Min) kita harus berjalan kaki melewati jalan aspal menanjak karena tak ada angkutan umum yang lewat kampung ini. Bila ingin lebih mudah kita bisa menyewa mobil untuk mengantar langsung hingga base camp, tarifnya sekitar Rp 800.000 untuk mengantar dan menjemput dari Jogja. Sebenarnya masih ada jalur lain seperti jalur Deles ataupun Babadan. Namun, rutenya relatif lebih sulit sehingga jalur Selo menjadi favorit para pendaki hingga kini. Sementara itu, jalur Selatan via Dusun Kaliadem sudah tidak bisa dilalui pasca erupsi besar tahun 2010 silam.

Kalibiru

Menunggu senja datang dari atas pohon pinus di hijaunya pegunungan Menoreh sambil memandang telaga di kejauhan. Udara segar dan suasana tenang menjadi pelepas ketegangan pikiran.
Sungguh ramah Pegunungan Menoreh sore itu, setelah satu jam berkendara dari Jogja, hawa dingin menyegarkan dipersembahkan kepada kami sebagai salam pembuka. Perasaaan yang sejak siang diburu hiruk pikuk jalanan kota mendadak tenang, tiba-tiba tentram. Tak ada motor berseliweran, jalanan lengang, halaman asri di rumah-rumah penduduk desa membuat kami ingin segera pindah ke sini. Melemparkan ingatan pada rumah masa kecil, rumah di kampung halaman yang kini menjadi kediaman bagi kenangan.

Kami ada di Kalibiru, sebuah desa di Pegunungan Menoreh yang menjadi pagar sisi barat Yogyakarta. Di pegunungan inilah 200 tahun silam Pangeran Diponegoro bersama pasukannya pernah berjuang melawan Belanda, sebelum akhirnya ditipu dan kemudian dibuang ke Sulawesi hingga akhir hayat. Kalibiru menjadi sebuah desa yang terkenal karena ekoturismenya. Hal itu tidak begitu saja terjadi, perlu berpuluh tahun mengembalikan keelokan Kalibiru yang sebelumnya sempat tandus karena aksi pembalakan hutan. Kini, berkat usaha penduduk menghutankan desa, wisata Kalibiru dapat menggerakkan perekonomian dan menjadi sumber penghidupan warga. Begitulah antara alam dan manusia, saling menghidupi.

Cave Tube Pindul

Rasakan sensasi pelusuran sungai di dalam gua menggunakan ban pelampung. Sambil menyusuri gelapnya lorong gua yang berhiaskan stalaktit dan stalagmit yang indah, Anda juga akan disodori dengan legenda pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya.
Menyusuri sungai menggunakan perahu karet merupakan hal yang biasa, namun jika sungai itu mengalir di dalam gua tentu saja akan menjadi petualangan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Gua Pindul, salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan tersebut. Selama kurang lebih 45 – 60 menit wisatawan akan diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 m menggunakan ban pelampung. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing.